Kamis, 26 April 2012

Anoreksia Nervosa

Anoreksia Nervosa  
Definisi
Anoreksia Nervosa Gangguan yang dikarakteristikan oleh badan kurus yang terjadi sebagai akibat dari kelaparan yang ditimbulkan sendiri
(Askep pada klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan.2004.hal 63)
Anoreksia Nervosa merupakan keadaan psiokofisiologik, yang biasanya terlihat pada wanita, dicirikan oleh penolakan untuk mempertahankan berat badan normal, rasa takut menjadi gemuk, gangguan citra tubuh, dan amenore
                                                                                    (Dorland.hal 60)
Bulimia Nervosa Gangguan makan yang dikarakteristikan oleh kelebihan makan yang sangat dan menggunakan laktasif, diuretik, dan muntah yang dirangsang sendiri untuk membersihkan saluran khusus terhadap makanan (sindrom binge-turge)
(Askep pada klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan.2004.hal 63)
Bulimia Nervosa Gangguan mental yang mengenai perempuan remaja dan wanita muda, dicirikan oleh pesta makan yang disellingi dengan makan biasa atau puasa, namun tanpa kehilangan berat badan yang ekstrem
                   (Dorland.hal 169)
        
Etiologi
Penyebab pasti anoreksia maupun bulimia tidak diketahui. Sama seperti gangguan mental lain, ada banyak faktor yang mungkin memainkan peran terjadinya gangguan makan, seperti gen, kebiasaan tertentu, gangguan psikologis serta pengaruh keluarga dan lingkungan:
·         Biologis. Gen mungkin membuat beberapa orang lebih rentan mengalami gangguan makan. Mereka dengan hubungan keluarga tingkat pertama saudara atau orang tua yang mengalami gangguan makan dapat mungkin mengalaminya juga. Hal lain yang juga memungkinkan adalah kurangnya zat kimia di dalam otak serotonin memainkan peran di sini.
·         Kebiasaan tertentu, seperti diet atau berolahraga secara berlebihan dapat berkontribusi mengalami bulimia. Sebagai contoh, diet adalah faktor primer sebagai pemicunya.
·         Kesehatan emosional. Mereka dengan gangguan makan mungkin memiliki masalah emosional yang berkontribusi pada masalah ini. Mereka yang memiliki kepercayaan diri rendah, perfeksionis, impulsive, sulit mengatur kemarahan, konflik dalam keluarga dan masalah dalam hubungan menjadi rentan mengalami masalah ini.
·         Lingkungan. Kultur budaya barat sering menghubungkan kesuksesan dengan tubuh yang kurus, Hal ini juga di dukung dengan adanya anggapan tersebut yang berkembang pada teman sebaya dan media massa. Hal ini rentan terjadi khususnya pada gadis berusia muda.
(http://akatsuki-ners.blogspot.com/2011/02/askep-klien-dengan-kelainan-makan.html)

Tanda dan gejala
1.      Penurunan berat badan
2.      Amenore sekunder
3.      Bradikardi
4.      Suhu tubuh rendah
5.      Penurunan TD
6.      Intoleran terhadap dingin
7.      Kulit kering dan turgor buruk
8.      Kuku rapuh
9.      Rambut lanugo
10.  Penurunan nafsu makan
11.  Atropi payudara
12.  Penurunan rambut aksila dan pubis
13.  Gangguan tidur
14.  Konstipasi
15.  Peningkatan kerentanan terhadap infeksi
(Askep pada klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan.2004.hal 64)

Patofisiologi
Ketika memasuki masa remaja, khususnya masa pubertas, remaja menjadi sangat perhatian atas pertambahan berat badan mereka. Terjadi perubahan fisiologis tubuh yang kadangkala mengganggu. Biasanya, hal ini lebih sering dialami oleh remaja putri daripada remaja pria. Bagi remaja putri, mereka mengalami pertambahan jumlah jaringan lemak sehingga mereka akan mudah untuk gemuk apabila mengkonsumsi makanan yang berkalori tinggi. Kalau dulu makan apapun tidak berefek bagi berat badan, tapi setelah masa pubertas (biasanya ditandai dengan menstruasi), baru makan coklat dua potong, kok beratnya sudah tambah 1 kg. Pada kenyataannya kebanyakan wanita ingin terlihat langsing dan kurus karena mereka beranggapan bahwa menjadi kurus akan membuat mereka bahagia, sukses dan populer. Apalagi kalau melihat ‘body’ para selebritis yang langsing (sebenarnya lebih tepat dikatakan kurus-ceking- tiada berisi) sehingga kalau pakai baju model apapun terlihat pas dan pantas dipakai. Sementara kalau tubuh kita gendut, pakai baju apapun rasanya seperti sedang memakai karung terigu. Akhirnya, lingkungan sekitar juga ikut mempengaruhi. Semakin sering diledek ‘’gendut’’ maka dietnya semakin gencar. Maka tidak mengherankan bila ketidakpuasan seseorang dengan tubuhnya akan mengembangkan masalah pada gangguan makan.
Remaja dengan gangguan makan seperti di atas memiliki masalah dengan body imagenya. Artinya, mereka sudah memiliki suatu mind set (pemikiran yang sudah terpatri di otak) bahwa tubuh mereka tidak ideal. Mereka mempersepsikan tubuhnya gemuk, banyak lemak di sana sini, tidak seksi dan lain-lain yang intinya tidak sedap untuk dipandang dan tidak semenarik tubuh orang lain. Akibat pemikiran yang sudah terpatri ini, seorang remaja akan selalu melihat tubuh mereka terkesan gemuk padahal kenyataannya justru berat badan mereka semakin turun hingga akhirnya mereka menjadi sangat kurus. Mereka akan dihantui perasaan bersalah manakala mereka makan banyak karena hal itu akan menyebabkan berat badannya naik. Masalah “body” ini akhirnya menyebabkan remaja menjadi tidak percaya diri dan sulit untuk menerima kondisi dirinya. Mereka beranggapan bahwa kepercayaan diri akan tumbuh kalau mereka juga memiliki tubuh yang sempurna (sempurna disini adalah ; kurus)

Komplikasi
1.      Kerusakan organ khususnya jantung, otak dan ginjal.
2.      Penurunan tekanan darah, nadi dan frekuensi nafas.
3.      Rambut rontok.
4.      Detak jantung yang tidak teratur.
5.      Osteoporosis.
6.      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
7.      Kematian akibat kelaparan atau bunuh diri.
8.      Pembengkakan kelenjar parotis dan kelenjar submaksilaris (sialadenosis).
9.      Muka tembem.
10.  Tanda Russel—pembentukan jaringan parut dan kalus pada buku-buku jari.
11.  Erosi email gigi.
12.  Nyeri tekan atau nyeri abdomen.
13.  Esofagitis, gastritis.
14.  Gangguan fungsi untuk bersekolah dan sosial karena terobsesi dengan makanan

Komplikasi yang paling sering anoreksia adalah amenore dan kehilangan karakteristik seks sekunder dengan penurunan kadar estrogen, yang akhirnya dapat menyebabkan osteoporosis.
Keropos tulang dapat terjadi pada wanita muda setelah sependek periode sebagai 6 bulan penyakit. Fraktur kompresi gejala dan kyphosis telah dilaporkan. Sembelit, intoleransi dingin dan kegagalan untuk menggigil dalam dingin, bradikardia, hipotensi, ukuran jantung decresed, darah perubahan electrocardiograpic, dan kelainan elektrolit, dan kulit dengan lanugo (peningkatan jumlah rambut halus) yang umum. Kematian mendadak yang tak terduga telah dilaporkan, sedangkan resiko untuk meningkatkan berat badan turun menjadi kurang dari 35% sampai 40% dari berat ideal. Hal ini diyakini bahwa kematian ini disebabkan oleh degenerasi miokard dan gagal jantung dibanding disritmia

Pemeriksaan Diagnostik
1.      JDL dengan diferensial; menentukan adanya leukopenia, limpositosis, anemia.
2.      Pemeriksaan serum darah
3.      Hipoglikemia, hipokolesteremia, hipokalemia, hiponatremia
4.      Penurunan kadar estrogen, peningkatan BUN
5.      Pemeriksaan urine: penurunan ketosteroid-17 urine, terdapat keton
(Askep pada klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan.2004.hal 64)

Penatalaksanaan Medis
1.      Penetapan beratnya gangguan nutrisi
2.      Bila hebat, pemberian makan melalui nasogastrik bila klien menolak makanan
3.      Cairan parenteral dengan elektrolit/hiperalimentasi untuk mengatasi dehidrasi atau   malnutrisi yang mengancam jiwa
4.      Terapi modifikasi perilaku
5.      Penimbangan setiap hari
6.      Rujukan pada psikoterapi dengan pendekatan terapi keluarga untuk perawatan
(Askep pada klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan.2004.hal 65)

Asuhan Keperawatan
Klien dengan Anoreksia Nervosa

A.    Pengkajian
Observasi/temuan
Riwayat keluarga umum
·         Tingkat sosioekonomi kelas menengah sampai atas
·         Fisiologi konservasif, standar pribadi tinggi
·         Sering terganggu, hubungan menggairahkan dengan kehangatan, namun ayah pasif
·         Sering merupakan hubungan tergantung dengan ibu yang dominan, cemas, depresi kronis
·         Anggota keluarga sangat bersatu
·         Batasan pribadi tidak dihargai
·         Membaca pikiran umum
·         Adanya gangguan pada kemandirian klien
·         Ekspresi marah, ansietas, atau agretivitas terhambat
·         Tidak menyukai perdebatan
·         Menghargai kebersamaan
·         Loyalitas berlebihan
·         Memiliki standar tinggi
·         Mencari cinta dan persetujuan anorektik sehingga menjadi perfeksionis, namun tidak dapat mencapainya, menimbulkan terjadinya keluhan-keluhan
·         Klien menjadi fokus perhatian keluarga sehingga menguatkan keinginan untuk menurunkan berat badan dan menghindari pola makan yang buruk
Periode prodroma
Ø  Peningkatan peka rangsang
Ø  Ketidaknyamanan abdominal
Ø  Sakit kepala
Ø  Hiperaktivitas
Ø  Depresi
Ø  Ansietas
Ø  Menarik diri dari kehidupan sosial
Ø  Memiliki tingkat harapan tinggi di sekolah dan melakukan olahraga energi tinggi atau bekerja dengan stres tinggi
Ø  Mengalami kelebihan berat badan sebelumnya
(Askep pada klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan.2004.hal 63)
B.     Analisa data: Diagnosa Keperawatan yang sering muncul
1.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, rangsangan muntah sendiri, penyalahgunaan laktasif, dan/atau penyimpangan persepsi tentang tubuh
2.      Potensial terhadap kekurangan volume cairan (sekunder) yang berhubungan dengan diet
3.      Gangguan citra tubuh/harga diri berhubungan dengan rasa takut yang tak wajar terhadap kegemukan
4.      Kurang pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan kondisi dan kurangnya ketrampilan koping

C.    Intervensi
No
Diagnosa Keperawatan
Intervensi
Rasional
1
 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, rangsangan muntah sendiri, penyalahgunaan laktasif, dan/atau penyimpangan persepsi tentang tubuh
1.         Izinkan klien memilih makanan (makanan rendah kalori tidak diperbolehkan)






2.         Berikan makan sedikit dan makanan kecil tambahan yang tepat

3.         Anjurkan perawatan mulut yang sering






4.        Dalam kolaborasi dengan ahli diet, tentukan jumlah kalori yang diperlukan
1.         Pasien akan mencoba menghindari mengambil makanan bila tampak mengandumg banyak kalori dan mau makan lama untuk menghindari makan
2.         Dilatase gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat setelah periode puasa

3.         Untuk melembabkan selaput mukosa, mengurangi ketidaknyamanan dari mulut yang kering, dan untuk mengurangi jumlah bakteri, meminimalkan risiko infeksi jaringan
4.         Untuk memberikan nutrisi yang cukup dan berat badan realistis (berdasarkan struktur dan tinggi badan)
2.
Potensial terhadap kekurangan volume cairan (sekunder) yang berhubungan dengan diet

1.    Kaji dan dokumentasikan kondisi dari turgor kulit dan semua perubahan pada integritas kulit
2.    Anjurkan perawatan mulut yang sering



 3.    Kaji dan    dokumentasikan kelembaban dan warna dari selaput mukosa oral

4.    Pantau nilai-nilai laboratorium serum, dan beritahu dokter jika terdapat  perubahan-perubahan yang nyata
1.    Kondisi dari kulit memberikan data yang berharga tentang hidrasi pasien

2.    Untuk melembabkan selaput mukosa,  untuk mengurangi jumlah bakteri, meminimalkan risiko infeksi jaringan
3.    Selaput mukosa yang kering, pucat, dapat merupakan petunjuk dari malnutrisi atau dehidrasi

4.    Data-data laboratorium memberikan ukuran yang objektif untuk mengevaluasi hidrasi yang cukup
3.
Gangguan citra tubuh/harga diri berhubungan dengan rasa takut yang tak wajar terhadap kegemukan

1.   Berikan penguatan positif bagi pembuatan keputusan-keputusan yang dibuat secara mandiri yang mempengaruhi kehidupan pasien

2.  Bantu untuk membuat persepsi yang realistis dari citra tentang tubuh dan hubungan dengan makanan

3.  Tingkatkan perasaan-perasasan kontrol di dalam lingkungan melalui partisipasi dan pembuatan keputusan mandiri, pasien untuk bisa belajar menerima diri sebagaimana adanya, termasuk kelemahan dan kekuatan
4.  Bantu pasien untuk menyadari bahwa kesempurnaan adalah tidakrealistis, dan gali kebutuhan ini dengannya
1.     Penguatan positif meningkatkan harga diri dan dapat memberi dorongan kepada pasien untuk terus brfungsi secara lebih mandiri


2.     Pasien perlu mengetahui bahwa persepsinya tentang citra tubuh adalah tidak sehat dan dapat mengancam jiwa
3.     Pasien harus mengerti bahwa dia sanggup, individu yang memiliki otonomi dapat melakukan di luar unit keluarga dan bahwa ia tidak diharapkan untuk menjadi seorang yang sempurna


4.     Saat pasien mulai merasa lebih baik tentang diri dan mengidentifikasi sifat-sifat diri yang positif, serta mengemban gkan kemampuan untuk menerima ketidaksempurnaan pribadi tertentu.
4.
Kurang pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan kondisi dan kurangnya ketrampilan koping

1.  Kaji kebutuhan diet, jawab pertanyaan sesuai indikasi. Dorong konsumsi makanan tinggi serat dan masukan cairan adekuat

2.  Dorong penggunaan teknik relaksasi dan manajemen stress lain, misanya visualisasi, bimbingan imajinasi, umpan balik, biologi




3.  Bantu pengadaan program latihan yang bijaksana. Pencegahan terhadap latihan berlebihan
1.    Pasien/keluarga memerllukan bantuan dalam perencanaan untuk cara makan baru. Konstipsi dapat terjadi bila laktasif dihentikan
2.    Cara baru koping dengan perasaan ansietas dan takut akan membantu pasien mengatasi perasaan ini lebih efektif, bantuan dalam pemberian perilaku maladaptif untuk tidak makan/pesta-pembersihan
3.    Latihan dapat membantu pengembangan gambaran diri positif dan melawan depresi (mengeluarkan endorfin dalam otak meningkatkan rasa sejahtera)

D.    Evaluasi
1.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, rangsangan muntah sendiri, penyalahgunaan laktasif, dan/atau penyimpangan persepsi tentang tubuh
Hasil yang diharapkan:
a.       Pasien telah mencapai dan mempertahankan paling sedikit 85% dari berat badan yang diharapkan
b.      Tanda-tanda vital, tekanan darah, pemeriksaan serum dari laboratorium berada dalam batas-batas normal
c.       Pasien mengungkapkan pentingnya nutrisi yang cukup
d.      Mengikuti kembali pola makan yang normal
2.      Potensial terhadap kekurangan volume cairan (sekunder) yang berhubungan dengan diet
Hasil yang diharapkan:
a.       Tanda-tanda vital pasien, tekanan darah, dan pemeriksaan laboratorium serum dalam batas normal
b.      Tidak ada tanda-tanda ketidaknormalan dari turgor kulit dan kekeringan kulit serta mukosa oral
c.       Klien menunjukkan keseimbangan antara masukan dan haluaran
3.      Gangguan citra tubuh/harga diri berhubungan dengan rasa takut yang tak wajar terhadap kegemukan
Hasil yang diharapkan
a.       Pasien mampu mengungkapkan aspek-aspek positif tentang diri
b.      Pasen mengekspresikan minst terhadap kesejahteraan orang lain dan berkurangnya renungan yang berlebihan tentang penampilan diri
c.       Pasien mengungkapkan bahwa bayangan tentang tubuh gemuk adalah persepsi yang salah serta mendemonstrasikan kemampuan untuk mengambil kendali terhadap kehidupan diri sendiri tanpa harus berlindung pada perilaku makan yang maladaptif
4.      Kurang pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan kondisi dan kurangnya ketrampilan koping
Hasil yang diharapkan:
a.       Klien berusaha mempertahankan mempertahankan berat badan
b.      Klien mencari sumber konseling untuk membantu mengadakan perubahan
c.       Klien mengungkapkan pentingnya perubahan gaya hidup untuk mempertahankan berat badan yang normal


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar